Pages

MAKALAH AHLAK 2 JUJUR DAN AMANAH



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Jujur adalah sifat terpuji yang merupakan faktor terbesar tegaknya agama dan dunia. Kehidupan dunia tidak akan baik, dan agama juga tidak bisa tegak diatas kebohongan, penghianatan serta perbuatan curang.
Jujur dan mempercayai kejujuran, merupakan ikatan yang amat erat dengan para Rasul dan orang-orang yang beriman. Sebagaimana Allah telah berfirman dalam surat Az-Zumar ayat 33-34 berikut artinya:

“dan orang yang membawa kebenaran (Muhammad) dan membenarkannya, mereka Itulah orang-orang yang bertakwa. Mereka memperoleh apa yang mereka kehendaki pada sisi Tuhan mereka. Demikianlah Balasan orang-orang yang berbuat baik“

Demikianlah balasan orang-orang yang berbuat baik,”Sebagaimana telah dijelaskan dalam firman Allah SWT diatas bahwasannya jujur mempunyai kedudukan yang amat tinggi dimata Allah SWT, juga dalam pandangan islam juga dalam pandangan Islam serta dalam pandangan orang-orang beradab dan juga akibatnya yang baik, serta betapa bahayanya berbohong dan mendustakan kebenaran.
Akan tetapi jika kita lihat dan perhatikan tentang kehidupan sosial sekarang bahwa kejujuran sudah jarang ditanamkan pada jiwa dan karakter seseorang, sudah jarang kejujuran diaplikasikan dan diterapkan pada kehidupan sehari-hari. Begitu pula seseorang orang memiliki sifat amanah adalah orang yang mempunyai sikap mental yang jujur, lurus hati dan dipercaya, jika ada sesuatu dititipkan kepadanya dia biasa menjaga, baik berupa harta benda, rahasia atau berupa tugas dan kewajiban lainnya. Sehingganya orang yang melaksanan amanah ini juga di tegaskan Allah dalam Al-Qur’an surat an-nisa ayat 58 berikut artinya:

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat“


B.     Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan pengertian jujur?
2.      Apa keutamaan dari jujur?
3.      Apa bahaya dari dusta?
4.      Bagaimana urgensi jujur dan menanamkan kejujuran dalam diri?
5.      Apa yang dimaksud dengan pengertian amanah ?
6.      Apa saja ruang lingkup amanah ?
7.      Apa keutamaan dari amanah?
8.      Apa bahaya jika tidak amanah ?
9.      Bagaimana urgensi dari amanah ?
10.  Bagaimana menanamkan amanah dalam diri ?
                                     
C.    Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui pengertian jujur.
2.      Untuk mengetahui keutamaan dari jujur.
3.      Untuk mengetahui bahaya dari dusta.
4.      Untuk mengetahui urgensi jujur dan cara menanamkan kejujuran dalam diri.
5.      Untuk mengetahui pengertian amanah.
6.      Untuk mengetahui ruang lingkup amanah.
7.      Untuk mengetahui keutamaan dari amanah.
8.      Untuk mengetahui bahaya jika tidak amanah.
9.      Untuk mengetahui urgensi dari amanah.
10.  Untuk mengetahui cara menanamkan amanah dalam diri.



BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Jujur
Benar atau jujur terjemahan dari bahasa Arab Ash-Shidqu yaitu orang yang selalu berkata benar atau jujur ialah orang yang perkataan dan pemikirannya bertolak dan berlandaskan kebenaran itu sendiri, sehingga tidak ada lagi perilaku yang bertentangan dengan kebenaran itu. Selalu berkata benar (sidik) adalah salah satu sifat Rasul saw. yang sangat masyhur sehingga mengantarkan beliau memperoleh sebutan Al-Amin.[1]
Perilaku jujur merupakan sesuatur yang penting di antara ahlak islam. Untuk memfokuskan dan meneguhkan hal ini jelas dibutuhkan kerja keras. Rasulullah SAW sendiri memberikan perhatian untuk menanamkan perangai itu pada diri anak. Beliau juga memberikan pengarahan kepada kedua orang tua agar membiasakan diri berperilaku jujur, ini dengan maksud agar mereka tidak terperosok kedalam ketidak jujuran yang tercela itu, lalu berbuat bohohong kepada anak yang padaakhirnya nanti akanditiru si anak tersebut.[2]
Jadi, jujur adalah suatu sikap yang mencerminkan adanya kesesuaian antara hati, perkataan dan perbuatan. Apa yang diniatkan oleh hati, diucapkan oleh lisan atau mulut dan ditampilkan dalam perbuatan memang itulah yang sesungguhnya terjadi dan sebenarnya. Kejujuran sangat erat kaitannya dengan hati nurani. Hati nurani senantiasa mengajak manusia kepada kebaikan dan kejujuran.

B.     Keutamaan jujur
Sifat shidiq merupakan sifat yang dijunjung tinggi oleh para Nabi dan Rosul Karena keutamaan-keutamaan yang terkandung dalam sifat shidiq tersebut.[3]


Keutamaan Sifat Shidiq diantaranya yaitu:
1.      Allah akan memberikan janji yang telah Allah janji kepada orang yang jujur[4]
 
``di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; Maka di antara mereka ada yang gugur. dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu- nunggu[1208] dan mereka tidak merobah (janjinya)``(QS. Al-Ahzab: 23)

[1208] Maksudnya menunggu apa yang telah Allah janjikan kepadanya.

2.      Shidiq merupakan salah satu sifat yang mulia, karena jujur adalah sifat para Nabi dan Rasul. Sebagaimana firman Allah swt. QS. Maryam ayat 41, 54 dan 56 berikut:

  
41. Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam Al kitab (Al Quran) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan[905] lagi seorang Nabi.

[905] Maksudnya: ialah Ibrahim a.s. adalah seorang Nabi yang Amat cepat membenarkan semua hal yang ghaib yang datang dari Allah.

54. dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan Dia adalah seorang Rasul dan Nabi.

56. dan Ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka, kisah) Idris (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi.

3.      Shidiq merupakan salah satu pondasi tegaknya agama.
Kata Muhammad bin Ali Al-Katami tegaknya agama Allah di atas tiga pondasi utama yaitu : Al-Haq, Ash-Shidq dan Al-‘Adl.[5] Al-Haq artinya kebenaran pada perilaku. Ash-Shidq kebenaran pada ucapan dan Al-‘Adl kebenaran hati nurani. Orang yang komitmen dengan sifat shidiq akan naik derajatnya di sisi Allah, di cintai manusia, diampuni dosa dan kesalahannya dan kelak dimasukkan kedalam surga bersama-sama dengan para Nabi. Sabda Rasululah saw.
4.      Jujur akan membawa ke surga
Dari Ibnu Mas'ud r.a.dari Nabi SAW, sabdanya:
"Sesungguhnya shidiq akan menentukan kepada perbutan birr (kebaikan), dan sesungguhnya kebaikan akan menuntun ke surga.  Seseorang itu sungguh melakukan kebenaran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang ahli melakukan kebenaran. Dan sesungguhnya berdusta itu menuntun kepada penyimpangan dan sesungguhnya penyimpangan itu  menjerumuskan kepada neraka. Seseorang sungguh berdusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai seorang yang ahli berdusta." (Muttafaq 'alaih)
            Sebagaimana hadis di atas, kejujuran adala suatu kebaikan, dan kebaikan itu menghantarkan sesorangke surga. Sebaliknya, siapa yangberdusta atau tidak berlaku jujur, maka orang tersebut telah berbuat keburukan. Dan keburukan itu menghantarkan pelakunya ke neraka.

5.      Seorang yang jujur berarti dia telah menjadi orang yang sebaik-baiknya teman.
Firman Allah SWT :
وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ وَالصِّدِّيقِينَ وَالشُّهَدَاءِ وَالصَّالِحِينَ وَحَسُنَ أُولَئِكَ رَفِيقًا
Artinya: Dan barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, Yaitu: Nabi-nabi, Para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. dan mereka Itulah teman yang sebaik-baiknya. (QS. An-Nisa’ : 69).
                        Tidakada seorang pun di dunia ini yang tidak menyukai orang yang jujur. Seorang yang jujur pastilah akan dicintai manusia, Rasul dan pastinya Allah swt. maka dari itu, marilah kita berlaku jujur dimanapun dan kapanpun.
6.      Orang yang mempunyai sifat shidiq akan mendapatkan ketenangan hati dan ketentraman jiwa. Sabda Rasulullah saw :
دَعْ مَا يَرِيبُكَ إِلَى مَا لَا يَرِيبُكَ فَإِنَّ الصِّدْقَ طُمَأْنِينَةٌ وَإِنَّ الْكَذِبَ رِيبَةٌ
Artinya: Tinggalkanlah apa yang meragukanmu kepada apa yang tidak  meragukanmu. Karena kejujuran itu merupakan ketenangan dan dusta itu keragu-raguan. (HR. Tirmidzi dan Ahmad).
7.      Orang yang shidiq akan mendapatkan keberkahan dalam berusaha. Sabda Rasulullah saw.
الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا أَوْ قَالَ حَتَّى يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِي بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَتَمَا وَكَذَبَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا
Artinya: “Dua orang yang melakukan jual beli bisa dengan khiyar selama keduanya belum berpisah, jika keduanya jujur dan terus terang, maka keduanya akan diberikan keberkahan, dan jika keduanya tidak terus terang dan dusta, maka keberkahan jual beli.
Perilaku jujur merupakan satu pilar penting diantara pilar-pilar akhlak Islam. Untuk memfokuskan dan meneguhkan hal ini jelas dibutuhkan kerja keras.[6] Rasulullah saw. sendiri memberikan perhatian pengarahan kepada kedua orang tua agar membiasakan diri berperilaku jujur. Ini dengan maksud agar mereka tidak terperosok ke dalam ketidak-jujuran yang tercela itu, lalu berbuat bohong kepada anak yang pada akhirnya nanti akan ditiru si anak tersebut.


C.    Bahaya Dusta
Dusta yaitu suatu sifat seseorang yang berkata tidak sesuai dengan fakta-fakta yang ada.[7] Artinya, seseorangtersebutberkata dengan kebatilannya atau ketidak tahuannya, bukan berdasarkan informasi yang ada dan logis.
Dusta adalah memberikan sesuatu yang tidak sesuai dengan kebenaran, baik dengan ucapan lisan secara tegas maupun isyarat seperti menggelengkan kepala atau mengangguk. Dan hukum asal berdusta adalah haram bahkan ia termasuk dosa yang paling keji dan aib yang paling buruk.[8]
Sebagaimana yang Allah swt. katakan dalam firman-nya QS. Al-Ankabut ayat 3, karena aib tersebut Allah menguji orang-orang terdahulu. Allah menimpakan teguran dan musibah dengan kekuasaan-Nya kepada orang-orang yang berdusta (pendusta).

dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.

Dari Abu Hurairah Radiyallahu’anhu ia berkata: Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga; jika berkata ia bohong, jika berjanji ia mengingkari, dan jika dipercaya ia berkhianat.” (Muttafaqun ‘alaih. Dan dalam riwayat Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin Am’r disebutkan, ‘Apabila ia bertengkar ia berbuat licik’) (Shahih) HR.al-Bukhari no.33, 34 dan Muslim no. 58, 59.
Jadi, pengaruh yang di akibatkan oleh perbuatan jujur akan menimbulkan kebahagiaan (surga) begitu pula sebaliknya perbuatan bohong itu dapat menimbulkan kesengsaraan (neraka), menderita di dunia dan akhirat.
Di antara dampak buruk dan bahaya dusta dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut :
1.       Berdusta membuat pelakunya tidak bisa tenang dan selalu merasa gelisah.
2.       Dusta menjadi penyebab jatuhnya citra, nama baik, dan kehormatan si pelaku. Orang menjadi kehilangan kepercayaan padanya. Bayangkan kalau dalam satu komunitas satu dengan yang lain sudah tidak saling mempercayai.
3.       Dusta menjadi bagian dari bentuk kemunafikan sehingga mengancam eksistensi iman.
4.       jika pendusta selamat dan aman di dunia, ia berhasil membungkus segala kepalsuan, kedustaaan, dan kebohongannya dengan berbagai macam intrik dan tipu daya sehingga orang tetap percaya maka di sisi Allah SWT ia tidak akan bisa selamat. [9]
Begitu tercelanya perbuatan bohong atau dusta, maka janganlah melakukan kebohongan sekecil apapun. [10] Karena itu, tidak ada jalan lain bahwa hidup tenang, bahagia, terhormat, dipercaya, dan sukses dunia akhirat hanya bisa didapat dengan kejujuran. Kejujuran adalah modal dasar orang-orang istimewa.

D.    Urgensi Jujur dan Menanamkan Kejujuran dalam Hati
Berbuat jujur adalah sangatpenting. Sebagaimana yang telah dijelaskan di atas mengenai keutamaan-keutamaannya sangat banyak sekali. Kejujuran merupakan sifat terpuji dan kunci sukses dalam kehidupan sehari-hari. Banyak contoh yang menunjukan bahwa orang jujur selalu disenangi orang lain. Bahkan orang jujur dengan mudah dapat meningkatkan kedudukan dan martabatnya.
Menanamkan jujur di sini dapat diartikan dengan enam makna, yaitu: jujur dalam perkataan, jujur dalam niat dan keinginan, jujur dalam hasrat (azm), jujur dalam memenuhi hasrat, jujur dalam perbuatan, dan jujur dalam merealisasikan semua maqam agama.[11]
Pertama, jujur perkataan karena ia memberikan suatu informasi. Kedua jujur niat dan perbuatan berkaitan dengan keikhlasannya dalam melakukan segala sesuatu. Ketiga jujur hasrat yaitu hatinya pun ikut merasakan jujur, tanpa bersu`uzan. Keempat jujur jujur memenuhi hasrat. Terkadang orang mudah menyatakan keinginannya namun ia sulit untuk melakukannya. Kelima jujur dalam perbuata. Seseorang harus bersungguh-sungguh dalam melakukan suatuperkerjaan atau suatu perbuatan, tidak setengah-setengah.
Keenam, jujur dalam merealisasikan maqam agama. Misalnya seperti benar-benar khauf dan raja`kepada Allah, bukan khaufdan raja` karena menginginkan sesuatu dan sesaat saja. Inilah tingkatan jujur yang tertinggi, yang tidak banyak orang merealisasikannya.
Salah satu contoh adalah kejujuran Nabi Muhammad sebelum menjadi nabi, ketika beliau diamanahi tugas oleh Siti Khodijah untuk berdagang, karena kejujuran beliau tersebutlah usaha Khodijah semakin maju dan berhasil merauk keuntungan yang besar, kemudian setelah itu pun Khodijah pun jatuh hati pada Muhammad karena kejujurannya itu, hingga akhirnya Muhammad menikah dengan Khodijah janda yang kaya raya itu.
Selain itu kejujuran adalah sikap yang perlu ditanamkan dihati anak-anak kita sejak awal dan harus dipantau setiap waktu pengamalannya setiap waktu dan kesempatan. Dengan mentradisikan sikap bisa dipercaya dan jujur disetiap urusan dilingkungan keluarga, lambat laun seorang anak akan membawa kebiasaan-kebiasaan baik itu pada system baru dimana anak-anak kita akan berinteraksi.
Pola pendidikan yang dilakukan orang tua dampaknya sungguh luarbiasa pada anak-anak kita. Sebaliknya tradisi berbohong, curang, dan tidak jujur disetiap urusan (apalagi didalam keluarga) akan mudah berkembang dalam diri anak-anak. Konsisten dalam ucapan dan perbuatan menjadi perbuatan kepribadian sesorang.
Oleh karena itu, penanaman sikap konsisten ini juga tidak boleh diabaikan oleh orang tua kepada anak-anaknya agar kelak setelah dewasa, anak kita menjadi orang yang bertanggung jawab, tegas dalam mengemban amanah, santun dalam perbuatan dan kuat dalam pendirian.
E.     Pengertian amanah
Secara Bahasa amanah berarti titipan seseorang kepada orang lain. Ketika seseorang dititipi maka harus dapat memelihara dengan baik. Artinya orang memiliki sifat amanah adalah orang yang mempunyai sikap mental yang jujur, lurus hati dan dipercaya, jika ada sesuatu dititipkan kepadanya dia bisa menjaga, baik berupa harta benda, rahasia atau berupa tugas dan kewajiban lainnya.[12] Sehingganya orang yang melaksanan amanah ini juga di tegaskan Allah dalam Al-Qur’an surat an-Nisa ayat 58 berikut:
* 
Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha melihat.
Amanah merupakan ahlak mendasar yang menjadi karakter Nabi SAW sejak beliau kecil hingga menjadi seorang Nabi. Sampai-sampai kaum musyrikin sendiri menyebut beliau sebagai “orang yang selalu jujur dan terpercaya”. Kemudian pengertian lain adalah ”sesuatu yang dipercayakan kepada seseorang, baik harta, ilmu, rahasia, atau yang lainnya yang wajib dipelihara dan disampaikan kepada yang berhak menerimanya”.
Menurut bahasa Arab amanah berarti kejujuran, kesetiaan, dan ketulusan hati. Menurut Bey Arifin dan H. Abdullah Said pengertian amanah sebagai berikut:
Dari kitab-kitab tafsir yang terkenal dapat diambil kesimpulan bahwa kata amanah itu salah satu pertanggung jawaban yang hanya dapat dibebankan atas manusia. Dengan demikian maka tampaklah selalu amanah bergandengan dengan hikmat, kebijaksanaan, dan kemanusiaan, amanat adalah suatu tanggungjawab terhadap terlaksananya seluruh kewajiban sosial dan akhlak.[13]
Salah satu contoh perilaku amanah yaitu:
Seprang bendaharawan dipercayakan memegang sejumlah harta benda milik suatu badan atau organisasi. Jika tugas tersebut dilaksanakan dengan jujur dan setia maka dia melaksanakan amanah itu dengan baik dan dapat dikatakan dia sebagai al-amin. Tapi jika ia curang dipandanglah ia khianat atau al-khain.[14]
Sebagai realisasi akhlakul karimah adalah hartawan hendaknya memberikan hak orang lain yang dipercayakan kepadanya, penuh tanggung jawab, ilmuan hendaknya memberikan ilmunya kepada orang yang memerlukan, orang yang diberi rahasia hendaknya menyimpan,  memelihara rahasia itu sesuai dengan kehendak yang mempercayakan kepadanya, pemerintah hendaknya berlaku dan bertindak sesuai dengan tugas kewajibannya,  seseorang mukmin hendaknya berlaku amanah, jujur atas semua anugrah yang Allah SWT berikan dirinya,  menjaga anggota lahir dan anggota batin dari segala maksiat dan wajib mengerjakan perintah-perintah Allah SWT.
F.     Ruang Lingkup Amanah
Amanah merupakan tanda dari keimanan seseorang. Lawan dari sifat amanah adalah munafik. Seperti kita ketahui bahwa sifat munafik memiliki ciri-ciri jika ia bicara maka ia berdusta, bila berjanji ia ingkar, jika dipercaya ia berkhianat  dan bila ia berseteru ia akan jahat.
Sebagai seorang muslim, tentunya kita ingin menjadi seorang yang amanah yang  jauh dari sifat munafik. Untuk memiliki keutamaan sifat amanah maka kita harus mengethaui ruang lingkup dari sifat amanah.
Berikut adalah ruang lingkup amanah:
1.      Amanah fitrah adalah amanah yang sudah ada sejak kita berada dalam kandungan , yaitu mengakui ke-esaan Allah SWT.
2.      Amanah dakwah  maksudnya setiap muslim memiliki kewajiban untuk menjadi seorang khalifah di dunia.
3.      Amanah anggota badan, dalam surat An-Nur : 30-31  dijelaskan tentang kewajiban setiap muslim untuk menjaga kemaluan dan tubuh mereka agar terhindar dari ketidak taatan pada Allah SWT (bermaksiat).
4.      Amanah dalam menunaikan hak :
a.       Hak pada Allah yaitu hak tauhid yang berarti hak untuk mengesakan  Allah.
b.      Hak pada makhluk Allah, seperti menjaga barang sewaan atau barang titipan, membayar hutang, menjaga silaturahmi dan hak pada tetangga.
5.      Amanah majelis
Semua majelis adalah amanah kecuali 3 hal yaitu: majelis pertumpahan darah  (namun dalam perang diperbolehkan mengambil hak musuh dan membunuhnya), kemudian majelis hubungan badan yang diharamkan dan majelis perlanggaran terhadap harta orang lain.
6.      Amanah keluarga
Menunaikan semua amanah atau kewajiban terhadap semua anggota keluarga, contohnya :hak istri terhadap suami, hak suami terhadap istri, hak anak terhadap orang tua, hak orang tua terhadap anak.
7.      Amanah kerja profesional
Menuntut setiap  muslim untuk bekerja secara ikhsan. Yaitu bekerja sebaik-baiknya dengan atau tanpa diawasi oleh atasan kita.
8.      Amanah kepemimpinan
Amanah ini ditunjukan dengan sikap : Tidak fanatisme golongan dan memberi kepemimpinan pada ahlinya.

G.    Keutamaan Amanah
a.      Amanah jalan menuju kesuksesan.
Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang memeliharaamanat-amanat (yang dipikulnya) danjanjinya. dan orang-orang yang memeliharashalatnya. Merekaitulah orang-orang yang akanmewarisi” (QS. Al-Mukminun: 8-10)

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:
Artinya: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhakmenerimanya, dan  apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisaa’: 58)

b.      Merupakan sifat para Rasul, Para Nabi, Orang-orang Mukmin dan para malaikat.

Allah berfirman:
“Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,…” (QS. Asy-Syu’araa’: 107)


“Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka:  “Mengapa kamu tidak bertaqwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,” (QS. Asy-Syu’araa’: 124-125)

H.    Bahaya jika Tidak Amanah
إِذَا ضُيِّعَتِ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ. قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ: إِذَا وُسِّدَ الأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةَ
“Jika amanah telah disia-siakan, tunggulah saat-saat kehancuran.” Orang Arab Baduwi itu berkata, “Bagaimana amanah itu disia-siakan?” Beliau bersabda, “Jika urusan diserahkan kepada selain ahlinya, tunggulah saat-saat kehancuran.” (HR al-Bukhari dan Ahmad).
Imam Ahmad mengeluarkan hadis ini dari Yunus dan Suraij. Imam al-Bukhari mengeluarkannya dari Muhammad bin Sinan dan dari Ibrahim bin al-Mundzir, dari Muhammad bin Fulaih; Yunus, Suraij, Muhammad bin Sinan dan Muhammad bin Fulaih dari Fulaih bin Sulaiman, dari Hilal bin Ali dari Atha’ bin Yasar, dari Abu Hurairah. Abu Hurairah berkata,
“Ketika Rasulullah saw. berada di suatu majelis dan Beliau sedang berbicara kepada satu kaum, datang kepada Beliau seorang Arab Baduwi dan berkata,
“Kapan kiamat?”
Rasulullah saw. terus saja berbicara. Sebagian orang berkata bahwa Beliau mendengar apa yang dikatakan orang itu, tetapi tidak suka dengan perkataannya. Sebagian yang lain berkata, Beliau tidak mendengar. Hingga saat Beliau selesai berbicara, Beliau bertanya,
“Di mana orang yang bertanya tentang kiamat?” Orang itu menjawab “Saya, ya Rasulullah.” Rasul lalu mengucapkan hadis di atas.

Allah berfirman:
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfaal [8]: 27)


I.       Urgensi Amanah
Diantara sifat para Rasul yang Allah Subhanahu wa Ta'ala sebutkan di dalam Al- Qur'an bahwasanya mereka adalah pemberi Nasihat dan orang-orang yang amanah.
Seseorang yang amanah pasti sangat disenangi oleh Allah dan Rasul-Nya, tentunya akan di senang juga olek makhluk-Nya. Eseorang yang amanahakan selalu dipercaya oleh oranglain. Seseorang yang amanah pasti akan selalu dicari oleh orang lain. Seseorang yang amanah pasti akan mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Diantara sifat generasi terbaik umat ini adalah orang-orang yang menjaga amanah, karena akan datang generasi sesudah mereka yang berkhianat dan tidak amanah sebagaimana dijelaskan  oleh Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam di dalam hadist Imron bin Husain rodhiyallahu anhu yang diriwayatkan oleh al- Imam al-Bukhori dan Imam Muslim di dalam kedua shohihnya.
Adapun di zaman akhir ini jadilah amanah sebagai sesuatu yang langka, sekalipun dikalangan kaum muslimin.Sulit sekali dijumpai pada hari ini orang-orang yang benar dalam amanah. Banyak manusia yang tergiur dengan dunia sehingga lalai dari kewajiban menunaikan amanah. Hal ini terjadi pada semua bidang kehidupan tidak terkecuali bidang ilmu Syar'I yang pada hari-hari ini banyak dimasuki oleh orang –orang yang bukan ahlinya, tidak dari segi kapasitas keilmuan dan tidak juga dari segi adab-adab seorang pengemban ilmu.
J.      Menanamkan amanah dalam diri
Berperilaku amanah dalam kehidupan sehari-hari sangat dianjurkan dalam Agama Islam. Pemahaman tentang perilaku amanah tersebut harus kamu terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan perilaku amanah dalam kehidupan sehari-hari dapat diwujudkan melalui beberapa cara berikut.
Menjaga titipan dan mengembalikannya seperti keada-an semula. Mungkin kita pernah dititipi suatu barang oleh orang lain seperti buku, pensil, pulpen, atau barang-barang lainnya. Sebagai anak yang amanah kita harus menjaga barang titipan tersebut dengan baik. Pada saat barang titipan tersebut diambil oleh pemiliknya kita harus mengembalikannya seperti keadaan semula.
Menjaga rahasia. Menjaga rahasia merupakan salah satu cara menerapkan perilaku amanah dalam kehidupan sehari-hari. Seseorang menceritakan rahasianya berarti orang tersebut percaya kepada kita. Dengan demikian, sebagai orang yang dipercaya kita harus dapat menjaga rahasia tersebut.
Tidak menyalahgunakan jabatan. Jabatan merupakan amanah yang harus dijaga. Apa pun jabatan yang kita pegang harus kita laksanakan dengan baik. Jabatan sebagai ketua kelas, bendahara kelas, atau jabatan lain yang kamu emban harus kamu laksanakan dengan baik.Teman-teman kita memilih kita menjadi ketua, bendahara; sekretaris, atau jabatan lainnya berarti mereka percaya kepada kita.
Oleh karena itu, kepercayaan tersebut harus kamu jaga dan laksanakan dengan baik. Memelihara dan memanfaatkan nikmat yang dikaruniakan Allah Swt. dengan baik seperti umur, kesehatan, harta benda, ilmu, lingkungan sekitar, dan anggota tubuh.
Melaksanakan tugas dengan baik. Tugas yang kita emban harus kita laksanakan dengan baik. Kita tidak hanya melaksanakan dengan baik tugas dari Bapak/lbu Guru. Kita juga melaksanakan dengan baik tugas dari orang lain. Apa pun tugas atau amanah yang kita emban, kamu berusaha melaksanakannya dengan baik.
Menjadi pemimpin yang memperhafikan kepentingan orang yang kita pimpin. Mungkin kita menjabat sebagai ketua kelas atau ketua organisasi.Tugas atau jabatan tersebut merupakan amanah. Kita dipercaya oleh teman-teman kita di kelas atau organisasi untuk menjadi pemimpin bagi mereka. Kamu harus melaksanakan tugas tersebut dengan baik. Kita harus dapat memimpin teman-teman kita dengan adil, rendah hati, dan selalu berusaha memahami serta melaksanakan aspirasi mereka.
Bersikap atau berperilaku jujur. Kadang kita menerima amanah berupa berita yang harus kamu sampaikan kepada orang lain. Pada saat menyampaikan amanah berupa berita hendaknya kita sampaikan dengan jujur. Kamu tidak menambahi atau mengurangi berita yang harus kita sampaikan.
Demikianlah beberapa cara menerapkan perilaku amanah dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, agar amanah dapat tumbuh dalam diri orang yang memilikinya, ada beberapa cara yang dapat ditempuh sebagai berikut.
Berperilaku amanah dalam kehidupan sehari-hari memperkuat diri dengan belajar ilmu agama. Hal ini dapat kita lakukan melalui beberapa cara seperti mengaji, mengikuti kajian-kajian agama, dan membaca buku-buku agama. Berbekal ilmu pengetahuan akan memudahkanmu membedakan perilaku yang amanah dan perilaku tidak amanah. Dengan demikian, kita dapat dengan mudah menghindari perilaku tidak amanah.
Menyadari bahwa amanah merupakan fitrah manusia. Setiap manusia dikaruniai perilaku amanah. Mengap ada manusia yang tidak amanah? Hal ini karena manusia tersebut telah dipengaruhi oleh hal-hal yark ada di luar fitrahnya. Selain itu, setiap orang akan merasa senang melihat seseorang yang berperilaki amanah dan tidak menyukai orang yang khianat. Menjernihkan hati dan jiwa dengan zikir. Saat berzikir kita mengingat Allah Swt. dan berusalk mendekatkan diri kepada-Nya


[1] Mulyadi dan Masan Alfat, Akidah Akhlak, (Semarang: PT. Karya Putra Toha Putra, 2003), hal. 77.
[2] Muhammad Suwaid, Mendidik Anak Bersama Nabi SAW, (Solo: Pustaka Arafah, 2004) hal. 244-245.
[3] Mulyadi, Op. Cit., hal. 79.
[4] Sa`id Hawa, Tazkiyatun Nafs, (Jakarta: Darussalam, 2005), hal. 344.
[5] Muhammad Suwaid, Op. Cit.

[6] Ibid. hal. 224.
[7] Kasmuri Selamat dan Ihsan Sanusi, Akhlak Tasawuf, (Jakarta: Radar Jaya Offset, 2013), hal. 31.
[10] Mulyadi, Op. Cit., hal. 80.
[11] Sa`id Hawa, Op. Cit. Hal. 346.
[12] Kasmuri, Op.Cit., hal. 53.
[13]  A. Munir dan Sudarsono, Dasar-Dasar Agama Islam, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1992), hal. 413.
[14] Burhanuddin Salam, Etika Individual, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 2012), hal. 172.

MELIBATKAN SISWA SECARA AKTIF DALAM PEMBELAJARAN

TUGAS MANDIRI
MAKALAH MELIBATKAN SISWA SECARA AKTIF DALAM PEMBELAJARAN

Mata  Kuliah Pengelolaan Pengajaran
Dosen Pengampu: Basri, M. Ag

Disusun oleh:
1.    Nelly Agustin   1501010089  (No absen: 25)


Jurusan Pendidikan Agama Islam (PAI)
Fakultas: Tarbiyah dan Ilmu Keguruan


INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI
(IAIN) METRO
1438 H/2017 M


BAB PEMBAHASAN

A.    Melibatkan Siswa Secara Aktif dalam Pembelajaran

        Mengajar adalah membimbing kegiatan belajar siswa sehingga ia mau belajar.  Artinya guru sebagai pembimbing di sekolah berusaha untuk membimbing anak didiknya agar anak didiknya tersebut mau belajar atau terlibat secara aktif dalam pembelajaran tersebut.
Terlibat secara aktif dalam pembelajaran atau pembelajaran aktif adalah kegiatan-kegiatan pembelajaran yang melibatkan para pelajar dalam melakukan suatu hal dan memikirkan apa yang sedang mereka lakukan.  Bukan hanya guru yang aktif dalam menyampaikan materi ajar, namun siswa harus merespon atau timbal balik dari apa yang telah guru sampaikan.
Dalam pembelajaran di kelas, guru harus berusaha untuk merancang dan melaksanakan pembelajaran semaksimal mungkin agar anak didik dapat terlibat aktif dalam pembelajaran. Keterlibatan anak didik secara aktif dalam pebelajaran ini dimaksudkan agar anak didik dapat mengetahui dan mencerna bahan ajar yang disampaikan oleh guru secara benar dan mendalam.
Selain itu, pembelajaran secara aktif dilakukan guna mendapatkan kondisi belajar mengajar yang efektif dan efisien. Karena pembelajaran aktif adalah salah satu variabel penentu efektif dan efisien tidaknya suatu pembelajaran itu sendiri.
Walaupun pada kenyataannya banyak di sekolah-sekolah hanya gurulah yang berperan secara aktif dalam proses belajar mengajar. Siswa hanya duduk diam dan mendengarkan apa yang disampaikan oleh guru, tanpa guru tahu apakah siswa tersebut mengerti dan memahami materi yang ia sampaikan.
Betapa pentingnya aktivitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar sehingga John Dewey, sebagai tokoh pendidikan, mengemukakan pentingnya prinsip ini melalui metode proyeknya dengan semboyan learning by doing. Bahkan jauh sebelumnyapara tokoh pendidikan lainnya seperti Rousseau, Pestalozi, Frobel dan montessory telah mendukung prinsip aktivitas dalam pengajaran ini.
Melihat banyak sekali para ahli yang mendukung prinsip melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran ini, membuktikan bakwa prinsip belajar mengajar ini sangat penting bagi guru dan siswa guna mengoptimalkan hasil dari proses belajar mengajar.
Aktivitas belajar murid yang dimaksud di sini adalah aktivitas jasmaniyah maupun aktivitas mental. Aktivitas belajar murid dapat dapat digolongkan menjadi beberapa hal sebagai berikut:
1.    Aktivita visual
Seperti membaca dan menulis.
2.    Aktivitas lisan
Seperti bercerita dan bernyanyi.
3.    Aktivitas mendengarkan
Seperti mendengarkan cerita dan materi.
4.    Aktivitas gerak
Seperti menari
5.    Aktivitas menulis
Seperti mengarang.
Dari uraian aktivitas belajar siswa di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas siswa dalam belajar secara aktif di kelas bervariasi. Tergantung dengan gaya belajar siswa itu sendiri, sehingga tidak dapat disama ratakan satu samalain. Ada yang diam mendengarkan dengan serius, ada yang memain-mainkan penanya di kertas (melukis) dan bisa saja sambil bersenandung.
 Berikut ini akan dibahas sistem belajar mengajar yang merupakan salah satu upaya dalam menciptakan belajar mengajar yang efektif dan efisien, yakni dengan sistem belajar siswa aktif atau CBSA.

1.    Pengertian CBSA
Secara etimologi CBSA dapat diartikan sebagai sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual, dan emosional guna memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara kognitif, afektif dan psikomotorik.
Dari pengertian di atas dapat dipahami bahwa CBSA adalah salah satu cara atau metode dalam pembelajaran yang telah dikembangkan para ahli. Metode ini menekankan pembelajaran yang memusatkan perhatian pada anak didik itu sendiri. Sehingga tidak hanya guru yang aktif dalam pembelajaran, namun siswa juga terlibat aktif.
Aktif secara fisik artinya siswa menampilkan penampilan fisiknya seperti gerak tubuhnya dan keikit sertaannya dalam bertanya dan menaggapi setiap aktivitas pembelajaran. Menuangkan ide-idenya dan kecerdasannya kedalam sebuah tanggapan dan pertanyaan ketika berdiskusi, dengan tidak meninggalkan etika dan sopan santun ketika proses pembelajaran tersebut berlangsung.
Sehingga pada akhirnya akn diperoleh kepahaman siswa mengenai materi pembelajaran; sikap siswa yang baik, sopan, santun, dan mimik tubuh sesuai; dan skill yang menonjol sesuai dengan bakat dan minat siswa maswing-masing.

2.    Tolak Ukur CBSA
Untuk dapat mengukur kadar keaktifan siswa dalam belajar, berikut akan dikemukakan beberapa pendapat  dari para pakar CBSA, menurut:
a.    McKeachie
Ada tujuh variasi kdar tolak ukur CBSA, yaitu:
1)    Partisipasi siswa dalam menentukan tujuan kegiatan belajar mengajar
2)    Penekanan pada aspek afektif dalam pengajaran
3)    Partisipasi siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar utama yang berbentuk interaksi antar siswa
4)    Penerimaan guru terhadap perbuatan dan sumbangan siswa yang kurang relevan atau yang salah
5)    Keeratan hubungan kelas sebagai kelompok
6)    Kesempatan yang diberikan kepada siswa untuk mengambil keputusan yang penting dalam kegiatan di sekolah
7)    Jumlah waktu yang digunakan untuk menangani  masalah pribadi siswa, baik yang berhubungan ataupun yang tidak berhubungan dengan pelajaran
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa tolak ukur siswa dikatakan terlibat secara aktif dalam pemelajaran ada tujuh macam. Tidak hanya melihat dari satau sudut pandang saja, namun banyak sudut pandang yang bevariasi. Contohnya aktif ketika diskusi dengan teman sekelompok, ketika bertanya dengan guru, ketika dapat menjawab pertanyaan guru atau menaggapi, dan lain sebagainya
b.    K. Yamamoto
Yamamoto melihat kadar keaktifan sista itu dari segi intensionalitas atau kesengajaan terencana dari peran serta  kegiatan oleh kedua pihak (guru dan siswa) dalam proses belajar mengajar.  Maksudnya, guru dan siswa merencanakan untuk berperan aktif di dalam kelas atau mengoptimalkan pembelajaran. Intensionalitas ini tidak berjalan secara tiba-tiba namun adanya persiapan terlebih dulu dari pihak guru maupun siswa. Misalnya memahani bahan ajar lebih dahulu sebelum proses pembelajaran.
Yamamoto membedakan keaktifan yang direncanakan secara sengaja (intensional), keaktifan yang dilakukan sewaktu-waktu (insidental) dan sama sekali tidak ada keaktifan dari kedua belah pihak. 
Keaktifan intensional sama halnya dengan intensinalitas di atas. Sedangkan insidental maksudnya adalah keaktifan sisiwa yang dilakukan secara tiba-tiba, tanpa adanya persiapan belajar terlebih dulu. Kemudian, tidak ada keaktifan sama sekali dari kedua belah pihak baik itu guru maupun murid. Guru hanya asyik menerangkan bahan ajar dan anak didik pasif, sehingga tidak terjadinya keaktifan sama sekali dari pihak siswa, dan tidak adanya usaha dari kedua belah pihak untuk berusaha aktif atau saling timba balik dalam belajar mengajar.
Yamamot mengungkapkan sembilan kadar keaktifan siswa yang digambarkan dalam diagram 1, di bawah ini.  Dari diagram tersebut, dapat dipahami bahwa keberhasilan pembelajaran didapatkan dari proses belajar yang melibatkan siswa dan guru secara aktif atau intensional. Ini berarti guru dan siswa melakukan kegiatan bekajar mengajar secara sengaja dan terarah. Sehingga tujuan intruksional dapat dicapai dengan tuntas.
Sebaliknya, jika tidak adanya keaktifan belajar dari siswa dan keaktifan mengajar dari guru maka tidak akan ada keberhasilan dari proses belajar tersebut. Kegiatan yang terjaditidak dikatan sebagai kegiatan instruksional lagi, namun hanya sebatas kegiatan biasa yang tidak memiliki arah dan tujuan yang jelas.

c.    H. O. Lingren
Lingren melukiskan kadar keaktifan siswa itu dalam interaksi diantara siswa dengan guru dan siswa dengan siswa lainnya.  Artinya proses pembelajaran dikatakan aktif apabila terjadi interaksi timbal balik guru dengan para siswa dan siswa dengan para siswa lainnya.
Interaksi belajar mengajar ada empat macam. Pertama, komunikasi satu arah yang menitik beratkan pada guru dalam menyampaikan informasi namun siswa pasif tanpa respo, tanpa adanya timbal balik. Kedua komunikasi dua arah, guru menyampaikan materi lalu siswa menanggapi penyampaian guru tersebut.
Ketiga komunikasi tiga arah, maksudnya dalam proses belajar mengajar terjadi interaksi timbal balik antara guru dengan siswa dan siswa dengan siswa. Yang terakir yaitu komunikasi semua/banyak arah, komunikasi ini sama dengan komunikasi nomer tiga. Namun, ruang siswa dalam berinteraksi lebih luas. Tidak hanya dengan seorang siswa, namun dengan beberapa siswa ayai keseluruhan siswa lainnya.
d.    Ausebel
Mengemukakan penjernihan pengertian di dalam mengkaji ke-CBSA-an dan kebermaknaan kegiatan belajar mengajar dengan mengemukakan dua dimensi, yaitu:
1)    Kebermaknaan materi serta proses belajar mengajar
2)    Modus kegiatan belajar mengajar
Kebermaknaan materi dalam proses belajar mengajar sangatlah penting. Yang dapat mengetahui kebermaknaat materi tersebut adalah guru dan siswa itu sendiri. Kebermaknaan materi ini dapat terealisasikan dengan baik apabila metode belajar mengajar yang diterapkan oleh guru dan siswa sesuai dengan materi dan siswa itu sendiri.
Terkadang banyak guru yang menganggap bahwa metode ceramah adalah metode yang paling kuno dan tidak tepat unutk menyampaikan materi ajar. Namun pada kenyataan tidak, terkadang metode ceramah sangat efektif bagi tujuan pembelajaran tertentu. Misalnya tujuan pengajaran adalah menyampaikan informasi atau pemberian pengertian kepada siswa, maka metode ceramah adalah metode yang paling baik dan tepat. Begitu juga dengan metode yang lainnya, harus diselaraskan dengan tujuan suatu pembelajaran.
Dapat dipahami bahwa aktivitas seorang siswa di dalam kelas dipengaruhi oleh keberartian materi yang disampaikan oleh guru terhadap seorang siswa. Ketika guru menjelaskan mengenai pengertian atau mengenai perkalia maka metode yang akan digunakan adalah metode ceramah. Siswa menerimmma dengan mendengarkan dan memperhatikan.
    Ketika guru menjelaskan mengenai gerakan shalat maka metode yang digunakan tidak tepat lagi hanya dengan ceramah. Namun harus ditambah dengan metode praktik shalat. Sehingga siswa dapat ikut aktif fisik dan psikisnya bagaimana gerakan shalat yang baik dan benar.

3.    Prinsip-Prinsip CBSA
Berdasarkan ALIS atau Active Learning in school yaitu pembelajaran aktif yang dilaksanakan di sekolah-sekolah untuk para siswa yang hakikat inti dan isi kurang lebih dengan CBSA, prinsip-prinsip pembelajaran aktifnya sebagai berikut:
a.    Prinsip melakukan, yang dalam CBSA disebut belajar sambil bekerja, pada dasarnya pembelajaran itu harus membuat peserta didik berbuat sesuatu, bukan tinggal diam, berpangku tangan. Perbuatan itu dapat berupa; melihat dan mendengar.
b.    Prinsip menggunakan semua alat indera (pancaindera), bahwa dalam pembelajaran hendaknya mengaktifkan semua alat indera untuk memperoleh informasi atau pengetahuan, melalui melihat, mendengar, meraba, mengecap dan membau.
c.    Prinsip eksplorasi lingkungan, bahwa pembelajaran aktif memanfaatkan lingkungan sebagai sarana, media dan/atau sumber belajar.

4.    Cara Memperbaiki CBSA
Ketika di suatu sekolah telah menerapkan pembelajaran aktif atau CBSA, namun masih belum mendapatkan hasil yang maksimal. Dapat diperbaiki dengan beberapa poin berikut:
a.    Abdikanlah waktu yang lebih banyak untuk kegiatan belajar-mengajar
b.    Tingkatkan partisipasi siswa secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar dengan menuntut respons yang aktif dari siswa.
c.    Masa transisi antara berbagai kegiatan dalam mengajar hendaknya dilakukan secara cepat dan luwes
d.    Berikanlah pengajaran yang jelas dan tepat sesuai dengan mengajar yang akan dicapai
e.    Usahakan agar pengajaran dapat lebih menarik minat murid.
Dari poin-poin di atas dapat dipahami bahwa dalammemperbaiki CBSA perlu adanya peran guru yang maksimal sehingga didapatkan hasil belajar dengan maksimal pula. Ketika guru lemah, lesu dan letih dalam pembelajaran, maka akan berdapak negatif bagi proses belajar mengajar di kelas. Sehingga tujuan pembelajaran yang diinginkan tidak akan tercapai dengan maksimal.

5.    Cara Meningkatkan CBSA
Ketika di suatu sekolah telah menerapkan pembelajaran aktif atau CBSA, namun masih belum mendapatkan hasil yang maksimal. Dapat ditingkankan dengan beberapa poin berikut:
a.    Kenali dan bantu siswa yang kurang terlibat secara aktif
b.    Siapkanlah siswa secara tepat, apa yang dibutuhkan oleh siswa
c.    Sesuaikan pengajaran dengan kebutuhan-kebutuhan individual siswa.
Meningkatkan hasil belajar siswa tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Namun, meningkatkan hasil belajar siswa memerlukan tips dan trik tertentu. Salah satunya adalah dengana pembelajaran aktif atau CBSA. Guru harus berperan secara maksimal. Memahami bagaiaman siswa, apa yang dibutuhkan siswa dan melibatkan siswa semaksimal mungkin dalam pembelajaran.



DAFTAR PUSTAKA
Usman, Moh. Uzer. 2003. Menjadi Guru Provesional. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Ysh, Soegeng. 2012. Pengembangan Sistem Pembelajaran. Semarang: IKIP PGRI Semarang Press.
 

Copyright © Nelly Agustin Education. Template created by Volverene from Templates Block
WP by Simply WP | Solitaire Online